Rabu, 18 Januari 2012

Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan
Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan (ROTD) seringkali menyebabkan hambatan-hambatan dalam pelayanan kesehatan (health care). Morbiditas dan mortalitas karena penggunaan obat merupakan masslah nyata yg dihadapi farmasi klinis saat ini. Telah diperkirakan bahwa 41%  pasien yang menggunakan obat-obat yang diresepkan pertamakali akan mengalami reaksi efek samping obat.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi ROTD adalah seringkali sulit untuk membuktikan suatu obat mempunyai hubungan penyebab dengan gejala yang dialami pasien. Dalam mengidentifikasi apakah sustu gejala itu termasuk ROTD atau bukan merupakan ketrampilan yang perlu dimiliki oleh farmasis (sudahkah kita calaon farmasis menguasainya??hehe).
Ada beberapa faktor yang mempengarhi ROTD yaitu : polifarmasi, jenis kelamin, kondisi penyakit yang diderita, usia, ras dan polimorfisa genetik.
Polifarmasi
Kejadian ROTD tampaknya muncul secara eksponensial jika obat yagn digunakan pasien bertambah banyak. Peresepan semacam ini seringkali terjadi pada penderita lanjut usia atau penderita dengan beberapa penyakit sekaligus.
Jenis Kelamin
ROTD lebih sering terjadi pada wanita dibanding pria. Namun belum ada penjelasan mengenai hal ini kenapa bisa terjadi. Contoh dalam praktik wanita lebih cenderung mengalami ROTD akibat digoksin, kaptopril, dan heparin. Disamping itu wanita juga lebih mudah mengalami kelainan sel darah pada penggunaan fenilbutazon dan kloramfenikol.
Kondisi Penyakit yang Diderita
Adanya penyakit lain  yang menyertai pasien dapat mempengaruhi respon obat dan munculnya ROTD melalui perubahan proses farmakokinetika atau kepekaan jaringan. Misalnya penderita yang mengalami kelainan pada ginjal dan hepar mempunyai resiko lebih tinggi mengalami ROTD dari obat-obat yang dieliminasi melalui rute tersebut.
Usia
Orang tua cenderung lebih sering mangalami ROTD dibanding pasien yang lebih muda. Salah satu penyebabnya adalah orang tua lebih sering mendapatkan terapi obat. Faktor lain yang mempengaruhi adalah peubahan kondisi orang tus tersebut meliputi perubahan farmakokinetika (absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat) yang faktor-faktor tersebut sangat tergantung pada kondisi organ-organ tubuh pasien.
Neonatus juga beresiko tinggi mengalami ROTD. Pada tahap neonatus enzim0enzim yang terlibat dalam metabolisme dan distribusi obat belum berkembang sempurna.
Ras dan Polimorfisa Genetika
Perbedaan ras dan genetik mungkin mempengaruhi proses pengobatan dalam tubuh. Sebagai contoh perbedaan genetik tampak dalam laju metabolisme pada banyak obat sehingga meskipun obat diberikan dalam dosis yang sama akan menghasilkan variasi kadar yang berbeda dalam plasma pasien yang berbeda.
Contohnya orang yang berasal dari amerika (yang berasal dari afrika) dan orang-orang Mediteranean mempunyai resiko terjadinya hemolisis yang lebih tinggi pada penggunaan obat-obat golongan sulfon (misalnya dapson), 4-kuinolon, antimalaria dan aspirin. Hal ini disebabkan pada ras tersebut mengalami defisiensi enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD)
Sebenernya masih banyak lagi tentang ROTD, tapi karena waktunya mepet uda harus ke kampus pagi, jadinya kita lanjutkan besok lagi.
O y, saran untuk pasien, jangansungkan-sungkan bertanya pada apoteker bila anda bingung tentang penggunaan suatu obat. 