Sabtu, 23 Juni 2012

Penyelam yang Lupa Tujuan


Penyelam yang Lupa Tujuan
Seorang penyelam diminta oleh seorang bos untuk mengambil mutiara di dasar lautan. Dia dibekali dengan seperangkat alat selam oleh bosnya. Bekal oksigen yang diberikan oleh bos sangat terbatas. Oksigen itu hanya culup untu 1 jam, dan setelah itu “mati”. Jadi dalam waktu yang terbatas itu sang penyelam harus mendapatkan mutiara yang diminta oleh bosnya. Itulah tujuannya.
Pada waktu yang telah ditentukan berangkatlah penyelam tersebut untuk melaksanakan misinya. Mengambil mutiara di dasar lautan dan mulailah dia menceburkan diri ke dalam laut. Ketika pertama melihat keindahan laut tersebut dia terkagum-kagum. Indahnya terumbu karang yang berhias ikan berjuta warna membuatnya terlena. Dia ikuti ikan yang sangat indah berkeliling diantara terumbu karang. Dia amati gerombolan ikan yang berseliweran diantara terumbu karang.
Semua keindahan bawah laut itu membuatnya lupa akan tujuan utamanya dia menyelam. Dia baru sadar ketika indicator oksigen menunjukkan angka 20%. Dia pun panic karena teringat mutiara yang diinginkan oleh bosnya. Dia langsung segera meluncur ke tempat mutiara yang sudah diketahuinya. Namun apalah daya dia tak lagi sempat menuju mutiara itu karena keterbatasan oksigen yang dia punya. Untungnya dia masih sempat untuk kembali ke permukaan yang artinya masih selamat.
Disinilah masalah muncul ketika penyelam itu ditanya oleh bosnya. Dia bingung mau memberikan alasan apa kepada bos. Namun bosnya tak mau tahu, yang dia inginkan adalah mutiara dan penyelam itu sudah diberika semua fasilitas yang dia butuhkan untuk mengambil mutiara. Dan bagaimanakah nasib penyelam itu? Silakan pembaca memprediksikan sendiri. He he
Dari cerita di atas kita bisa mengambil beberapa pelajaran. Yang pertama laut dengan segala keindahan yang ada di dalamnya adalah analogi dari dunia tempat kita berada. Mutiara yang ada di laut itu adalah tujuan utama kita berada di dunia yaitu beribadah kepada Allah. Dan oksigen yang diberikan kepada penyelam itu adalah umur yang dikaruniakan kepada kita.
Hidup ini harus punya visi, misi dan tujuan yang jelas. Sebagai seorang muslim tugas utama kita adalah beribadah kepada Allah yang sudah jelas difirmankan Allah dalam surat Adz-Dzariat ayat 56 yang artinya “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
Dunia ini adalah sarana bagi kita untuk mengabdi kepada Allah, bukan tujuan utama kita. Namun seringkali kita terlena dengan keindahan dunia yang semu dan lupa akan tujuan utama kita di dunia. Harta itu kebutuhan kita namun kita tidak boleh cinta pada harta.
Mari kita tata hati kita, kita luruskan niat kita. Selagi persediaan oksigen masih ada untuk kita, kita manfaatkan sebaik-baiknya. Fasilitas yang diberikan Allah kepada kita ini harus kita manfaatkan untuk beribadah kepada-Nya sebagai wujud rasa syukur kita kepada-Nya.

Senin, 11 Juni 2012

Motivasiku Menjadi Pemandu


Motivasiku Menjadi Pemandu
Oleh : Romdlon Fauzi
Pemandu menurutku adalah seseorang yang paling berjasa bagi “orang baru”. Maksud orang baru dalam hal ini adalah orang yang berada di lingkungan baru. Hal ini bukan tanpa alasan karena saya sendiri juga merasakan manfaat dari seorang pemandu ketika saya berada di lingkungan baru. Kampus.
Dalam dunia kampus peran pemandu sangat penting terutama bagi mahasiswa baru. Kenapa demikian?. Karena pemandu yang akan menjadi gerbang pertama mahasiswa baru dalam mengenali lingkungan barunya. Mulai dari kultur lingkungan, model belajar, kesibukan mahasiswa dan juga hal-hal lain yang berkaitan dengan keseharian mahasiswa.
Mengapa aku ingin jadi pemandu?. Menurut pendapat sebagian orang dengan menjadi pemandu, kita bisa belajar untuk komunikasi, memimpin forum, kenalan dengan adik angkatan dan lain sebagainya. Tetapi menurutku itu semua adalah “efek samping” dari kita menjadi poemandu. Menjadi pemandu menurutku adalah sebuah pengabdian dimana dengan menjadi pemandu kita lebih banyak memberi kepada mahasiswa baru. Memberikan pengalaman yang kita punya, memberikan semangat dan motivasi kepada adik pandu kita, memberikan pengetahuan tentang lingkungan kampus, memberikan informasi apa itu farmasi, memberi gambaran bagaimana menjadi mahasiswa yang seimbang dan juga memberi-memberi yang lain. Pemandu juga harus bisa memberikan teladan yang baik bagi adik pandunya dan itu bukanlah hal yang mudah. Perlu kesadaran, keikhlasan dan juga kesabaran dalam menggapainya.
Setiap orang tentunya mempunyai pandangan yang berbeda mengenai sosok pemandu yang ideal. Menurutku pemandu itu dianalogikan sebagai seorang koki. Adik pandu dengan berbagai macam tingkah polahnya masing-masing, dengan berbagai karakter yang mereka punyai, dengan berbagi latar belakang dan asalnya, masing-masing memiliki keunikan laksana garam, asam, bawang merah, bawang putih, dan rempah-rempah lainnya. Disinilah peran koki dibutuhkan untuk menghasilkan masakan yang lezat. Seandainya koki itu tidak memasak dengan baik maka tidak akan dihasilkan masakan yang bisa memuaskan lidah. Begitupun dengan kepemanduan ini, jika pemandunya tidak bisa mengondisikan forum yang dipandunya maka tidak akan ada rasa kekeluargaan dalam kelompok itu dan adik pandupun tidak akan merasakan nikmatnya forum tersebut.
Dalam setiap kepemanduan yang dilaksanakan tentunya ada banyak materi yang harus disampaikan oleh pemandu, seakan kita itu ditarget untuk menyuapi makanan yang segitu banyak kepada adik pandu kita dalam waktu yang telah ditentukan. Seringkali kitapun hanya mengejar target untuk menyampaikan materi sebanyak-banyaknya. Padahal esensi dari sebuah materi disampaikan itu bukanlah kuantitas yang disampaikan tetapi kualitas kepahaman adik-adik terhadap materi yang disampaikan. Jika dianalogikan dengan makan, makan secukupnya dan pilih yang bergizi tinggi sehingga makan kita lebih efisien. Kita tidak usahmemberikan terlalu banyak, tapi sampaikanlah poin-poin penting dari materi tersebut dan biarkan adik pandu kita mencerna sendiri dan di akhir sesi berikanlah kesimpulan. Dengan seperti ini adik pandu kita diharuskan untuk aktif sehingga kepahaman mereka terhadap suatu materi itu lebih membekas.
Sebagai penutup, menjadi pemandu adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk melaksanakan pengabdian, memberikan apa yang kita miliki dan juga memberikan manfaat kepada orang lain sehingga orang lain bisa merasakan keberadaan kita. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.